“Semua demi anakku” – salah satu kisah nyata favorite saya dari Kick Andy’s show. So Inspiring !

Banyak perempuan memutuskan untuk tidak menikah lagi setelah ditinggal sang suami. Mereka memilih untuk membesarkan anak-anak secara orang tua tunggal. Perlu keberanian dan kekuatan tersendiri untuk menghadapinya, terlebih jika anak yang menjadi warisan sang suami jumlahnya tidak sedikit. Tiga perempuan dengan jumlah anak bervariasi, yakni 7 orang, 12 orang, dan 15 orang, akan membagi kisahnya di episode Kick Andy Kali ini.

Nisma (71), adalah seorang ibu yang harus menjanda di usia 38 tahun. Suaminya, Ramli Rangkuti, meninggal dalam sebuah kecelakaan lalu lintas di tahun 1978. Ramli yang hanya bekerja sebagai karyawan di perkebunan karet itu, tak banyak meninggalkan warisan kecuali pesangon senilai Rp.4,5 juta dan 7 orang anak! Anak paling besar berusia 17 tahun dan yang bungsu masih berumur 18 bulan.

Perempuan yang selama ini hanya berprofesi sebagai ibu rumah tangga ini mengaku sempat stress dengan takdir yang menimpanya. “Saya sempet putus asa, sampai kemudian paman saya menasihati saya agar kuat dan tabah demi anak-anak,” ujar Nisma saat tampil di Kick Andy.

Nisma dan 7 anaknya yang tidak diwarisi rumah itu kemudian pindah ke rumah mertuanya di Siantar. Uang pesangon suaminya ia depositokan di bank. Dari deposito itu memperoleh bunga sekitar Rp.50 ribu per bulan. Uang itu lah yang jadi sumber kehidupan mereka. Namun Nisma menyadari, kebutuhan hidup dia dan ke -7 anaknya itu terus bertambah, apalagi anak-anak harus disekolahkan. Perempuan yang hanya lulusan SMP ini bertekad, agar semua anaknya bisa sekolah lebih dari pendidikannya.

Lambat laun uang deposito itu pun mencair jadi tabungan biasa dan dipakai untuk hidup sehari-hari. Nisma pun kemudian mencoba berjualan keliling, dengan modal kepercayaan dari seorang pedagang batik di Medan. Puluhan tahun ia berjualan keliling dari pintu ke pintu, menjajakan kain yang dijualnya secara kredit. Di tengah kesibukannya, ia tak lupa untuk selalu mengingatkan anak-anaknya agar rajin belajar.

Dalam urusan sekolah, Nisma memiliki aturan ketat. Semua anaknya wajib bersekolah negeri, begitu juga dengan kuliah. Tak lulus sekolah atau kuliah di negeri? Maka tak ada kesempatan untuk sekolah tinggi-tinggi. “Ya saya mana mampu menyekolahkan di swasta,” tegasnya.

Dengan upayanya yang tertatih-tatih, Nisma kini telah berhasil meraup kebahagiaan. Lima dari tujuh anaknya kini sudah menjadi sarjana, dan dua anak lulus SMK, semuanya sudah bekerja. “Sekarang malah Mama saya, adalah ibu yang paling bahagia,” ujar Ratna Mardianti, putri ke-4 Nisma.

Dari Jakarta, ada Ibu Nafisah Ahmad Zen Shahab (63). Dia adalah ibu dari 12 anak, yang merupakan warisan dari suaminya, Alwi Idrus Shahab. Seperti juga Nisma, Nafisah pada awalnya hanyalah seorang ibu rumah tangga. Namun sejak suaminya meninggal, ia harus mengubah profesinya menjadi pedagang, meneruskan usaha suaminya. Dia meneruskan amanat suaminya untuk menjadikan anak-anaknya sebagai dokter. Dan kini dari 12 anaknya, 10 orang sudah menjadi dokter, satu Sarjana Kimia, dan 1 lainnya lulus SKP.

Sementara itu Ibu Mulia Karuseng(67), dari Pare-Pare, Sulawesi, adalah seorang orang tua tunggal yang memiliki warisan anak terbanyak dari nars sumber Kick Andy kali ini. Sewaktu suaminya, As’ad Kamaludin meninggal tahun 1985, Mulia memiliki kewajiban untuk mengurus 15 anak! Anak paling kecil masih berusia 3 tahun.

“Saya membesarkan anak-anak saya dengan modal nekat,” katanya. Ia hanyalah seorang ibu rumah tangga dan kemudian belajar untuk bisa berdagang, meneruskan usaha suaminya. Pasang surut kehidupan ia jalani. Perempuan yang tidak lulus SMP ini selalu menanamkan pesan-pesan tentang kejujuran, kesabaran, dan kedisplinan pada anak-anaknya.

Anak-anak yang sudah besar dan bias bekerja kemudian membantu Mulia untuk membiayai sekolah anak-anaknya. Hampir di semua keluarga dengan orang tua tunggal, kekompakan adalah kunci utama dalam keberhasilan keluarga mereka.

Mulia kini sedang memetik buah perjuangannya, kegiatannya saat ini adalah berkeliling mengunjungi anak-anaknya yang kini sudah bisa dibilang sukses. Lima anaknya sudah menjadi dokter, tujuh anak bergelar Insinyur, dua sarjana Ekonomi dan satu putranya lulusan Akademi Angkatan Laut.

Inilah episode tentang perjuangan dan perjuangan seorang ibu dalam kapasitasnya sebagai orang tua tunggal. Mereka yang telah menyerahkan seluruh upaya demi pendidikan dan masa depan anak-anaknya.

“Semua demi anakku”

Source:

Posted with WordPress for BlackBerry.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s