MOS – Masa Orientasi Sekolah (Ospek)

Bagaimana sekolah menerapkan Masa Orientasi Sekolah (MOS) di hampir setiap SMP dan SMA semakin memprihatinkan. Sebagian orang mungkin memandang itu hal lumrah, biasa, dan tradisi. Namun kalau mau jujur dan ditelaah dengan hati nurani, penyelenggaraannya sangat memprihatinkan. Ya, sangat memprihatinkan.

“Orientasi” dilihat dari makna sesungguhnya adalah peninjauan untuk menentukan sikap (arah, tempat, dsb) yang tepat dan benar; pandangan yang mendasari pikiran, perhatian, atau melihat, meninjau agar lebih kenal / lebih tahu. Kegiatan selama MOS berlangsung, seharusnya benar-benar kegiatan yang sangat positif, yang sifatnya membina, membimbing siswa(i) baru bagaimana agar lebih cepat dan mudah beradaptasi dengan lingkungan barunya sekarang. Termasuk misalnya “strategi” yang bagus tentang bagaimana belajar yang efektif dan efisien, atau untuk yang kuliah .. strategi pemilihan mata kuliah, atau ciptakan kegiatan-kegiatan yang menghasilkan kreasi-kreasi segar dan prestasi bagi siswa(i) / mahasiswa(i).

Di Melbourne misalnya, “MOS” itu murni pengenalan kampus, pengenalan subject² kuliah, strategi-strategi pemilihan mata kuliah, bagaimana membuat presentasi, dsb. Melalui diskusi-diskusi, debat, presentasi, assignment-assignment itulah pelajar dilatih kemandirian, mentalnya .. Atau yang biasa disebut dengan EQ, tentunya terkait IQ.

Jauh, bahkan sama sekali tidak terpikir oleh “sistem” / cara mereka melakukan MOS dengan hal-hal yang “silly”, membentak junior apalagi melakukan kekerasan. Sedikitpun tidak ada sama sekali seperti itu. Tidak ada yang senior ‘menindas’ juniornya. Bentuk MOS / Ospek saat ini, kalau mau jujur…merusak mentalitas dan pola pikir orang muda. Karena memicu / membentuk kaum muda lebih emosional, cepat marah, membentak, mencaci, sehingga hal-hal tersebut menjadi sesuatu yang sangat biasa. Ironis.

MOS / Ospek yang dilakukan dengan cara melakukan “penindasan”/”silly” harusnya śųϑαh lama ditiadakan dan śųϑαh selayaknya segera di “switch” ke kegiatan yang jauh lebih positif, mengedepankan intelektual, sopan santun (artinya siapapun diajarkan etika dan santun berbicara dan bersikap).

Sudah saatnya kita, sekolah-sekolah menciptakan MOS dengan paradigma, ide-ide baru yang jauh lebih maju.

Misalnya:
– Membimbing siswa(i) bagaimana strategi yang ‘smart’ sukses dalam belajar.
– Ciptakan kegiatan yang melatih jiwa siswa(i) sebagai entrepreneur (bukan cenderung diarahkan ‘bekerja dimana’, melainkan menciptakan lapangan pekerjaan)
– Bagaimana melatih siswa(i) sejak dini, terbiasa berdagang. Pedagang yang jujur, yang sukses, memiliki tanggungjawab tinggi terhadap lingkungan sosialnya.
– Berlatih menyusun, melakukan presentasi yang singkat, menarik, tepat sasaran, efektif.
– Kegiatan yang mengasah siswa(i) agar peka terhadap lingkungan, memiliki jiwa sportifitas yang tinggi, jiwa sosial dan kepedulian terhadap lingkungan yang tinggi.

Dan masih sangat banyak tema, kegiatan yang jauh lebih elegan, smart untuk bisa dilakukan saat MOS.

Seandainya saja … pendidikan di setiap sekolah concern terhadap hal-hal diatas (tidak hanya IQ), penerus bangsa ini akan jauh lebih mampu membawa bangsa ini menjadi negara yang tidak hanya kuat secara materiil, namun juga secara moril dan akhlak.

Tentu, mutlak diperlukan semangat bersama, pantang menyerah untuk terus memajukan peradaban. Para orangtua, pendidik (bukan hanya pengajar) dan pelajar.

referensi lain:

http://blog.kenz.or.id/2006/08/24/10-alasan-mengapa-ospek-harus-dihapuskan-dari-sistem-pendidikan-di-indonesia.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s